Makna Lebaran “Hari Raya Idul Fitri”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak pergeseran nilai yang telah kita rasakan seiring dengan semakin maju dan berkembangnya zaman. Masuknya budaya Barat seiring dengan semakin gencarnya serbuan arus teknologi sedikitnya telah mengubah pola pikir masyarakat kita yang berimbas pada perubahan sikap dan tingkah laku dalam menghadapi setiap kondisi kehidupan.

Kondisi inilah yang sangat mengkhawatirkan. Kini pengaruh budaya Barat telah menyusup hingga ke segala bidang dan sendi-sendi kehidupan manusia. Bahkan juga telah memengaruhi tingkat keimanan seseorang pada ajaran agama yang mereka anut.

Kini, banyak umat Muslim yang telah kehilangan jati dirinya dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Mereka hanya tahu merayakan Lebaran saja tanpa pernah benar-benar mau menghayati dan memahami apa makna sebenarnya ingin dicari dari sebuah perayaan ibadah yang sesungguhnya memiliki nilai kesucian diri tersebut. Karena kalau benar-benar disadari, Lebaran sebenarnya hanyalah untuk orang-orang yang lulus dari sebuah ujian ibadah (puasa). Lebaran sesungguhnya hanya untuk orang-orang Muslim yang benar-benar telah membersihkan dirinya dari semua kesalahan (dosa-dosa) di masa silam. Jadi Lebaran bukan untuk orang yang tidak berpuasa. Lebaran bukan untuk orang-orang yang belum bisa menegakkan ibadah dan kembali ke jalan Allah SWT. Jadi Lebaran bukan hanya sebuah perayaan yang penuh kemeriahan dan untuk bersenang-senang semata.

Merayakan Lebaran bagi orang-orang Muslim yang benar-benar telah menjalankan serangkaian ibadah (termasuk berpuasa selama sebulan penuh) tentu akan berbeda nilai kenikmatannya dibandingkan dengan orang-orang Muslim yang merayakan Lebaran, tapi tidak disertai dengan berpuasa dan melaksanakan amalan-amalan ibadah lainnya dengan tujuan hanya untuk mengaharapkan keridhoan dari Allah SWT semata. Sangat memprihatinkan memang, bahwa keimanan dari para pemeluk agama (khususnya para umat Muslim) kini sedang mengalami degradasi (penurunan) akibat pengaruh perkembangan zaman dengan masuknya berbagai bentuk teknologi di negara kita. Kini, masyarakat kita seperti dimabuk euforia kesenangan dunia, tanpa mau memikirkan tentang hal-hal yang berbau akhirat (kematian). Akibatnya sebagian besar masyarakat kita pun seperti tersihir oleh segala kesenangan yang tersaji dalam kehidupan. Hingga mereka mulai melupakan ajaran agama, khususnya tentang hubungan antara manusia dengan penciptanya.

Lebaran Sesungguhnya

Lebaran sesungguhnya bukan hanya memakai baju baru saja seperti yang selama ini kita pikirkan. Lebaran juga bukan sekadar sholat ‘Id di Masjid, makan ketupat, berkumpul bersama keluarga dan saling bersalam-salaman saja. Tapi lebih dari itu semua. Pemakaian baju baru saat Lebaran hanyalah simbol belaka dari makna sebuah kesucian. Karena sebelum Lebaran, umat Muslim telah melewati berbagai ujian melalui serangkaian pelaksanaan ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang terpenting sesungguhnya adalah hatinya yang baru, bukan bajunya. Baju yang baru tidak akan berarti kalau tidak diiringi dengan hati yang baru pula. Tapi ironisnya, banyak umat Muslim yang tidak menyadarinya. Mereka malah sibuk menghias diri, bukan malah sibuk menghias hati. Padahal yang lebih berarti adalah kesucian hati yang menandakan bahwa kita benar-benar telah terlahir kembali sesuai dengan makna “Fitri” yaitu bersih atau suci kembali.

Untuk melengkapi kesucian hati/diri, itulah sebabnya saat perayaan Lebaran, sehabis melaksanakan sholat ‘Id, tradisi berkunjung dari satu rumah ke rumah umat Muslim yang lainnya (atau yang lebih dikenal dengan “halal bihalal”) pun selalu dilakukan. Karena menurut kodratnya, manusia adalah mahluk Tuhan yang selalu berinteraksi dengan manusia yang lain dalam menjalankan kehidupannya. Dalam menjalin interaksi tersebut, tentu banyak kesalahan yang pernah dilakukan seorang manusia dengan manusia yang lainnya, sehingga kegiatan saling mengunjungi untuk saling bermaaf-maafan merupakan sarana untuk memperkuat tali silaturahmi (persaudaraan), sekaligus juga sebagai sarana untuk penyucian diri dari dosa yang pernah dilakukan. Karena untuk mencapai kesempurnaan ibadah kepada Tuhan, manusia bukan hanya dituntut memiliki hubungan yang baik kepada Tuhan saja (hubungan vertikal), tetapi juga harus memiliki hubungan yang baik pula dengan sesama manusia (hubungan horizontal), sehingga terjadi kesetaraan hidup antara dunia dan akhirat.

Oleh karenanya, momen Lebaran seharusnya dapat dijadikan oleh umat Muslim sebagai cermin untuk melihat seperti apa diri kita yang sesungguhnya kini. Apakah kita telah menjadi manusia yang benar-benar telah dibekali hati untuk merasa? Apakah kita telah menjadi manusia berguna dan selalu melaksanakan ajaran agama sebaik-baiknya? Atau malah sebaliknya, kita telah menjadi manusia yang telah dibutakan oleh segala kemajuan dan keindahan zaman, sehingga menjadi manusia yang tak lagi mengenal Tuhan, menjadi manusia egois yang tak lagi mau menghiraukan penderitaan saudaranya sendiri. Lebaran seharusnya telah mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih berarti lagi demi mencapai kebahagiaan yang sejati, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk kita melangkah pada kehidupan yang sesungguhnya.

Iklan

Tinggalkan komentar anda . . . . . !!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s