Ekonomi Indonesia Dinilai Paling Rentan di Asia

Perekonomian Indonesia dinilai paling rentan terhadap tekanan efek perekonomian terlalu panas atau overheating dan masuk jebakan negara berpendapatan menengah alias middle income trap. Hal itu dipengaruhi tingginya aktivitas kredit yang sebagian besar bersifat konsumtif dan tingginya konsumsi domestik.

Ketahanan Indonesia terhadap pelambatan ekonomi global dan konsumsi domestik telah menjadi magnet bagi investasi asing dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ekspor yang lemah telah menekan pertumbuhan kuartal keempat produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,1 persen dari tahun lalu, lebih lemah dari yang diharapkan.

“Indonesia merupakan negara maju dalam siklus ekonomi, pertumbuhan kreditnya hampir dua kali lipat kecepatan ekonomi berkembang,” kata Robert Prior-Wandesforde, kepala ekonom India dan Asia Tenggara di Credit Suisse, seperti dikutip dari CNBC, awal pekan ini.

Menurut perkiraan Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai lebih dari 23 persen pada 2013 secara year-on-year (yoy).

“Peningkatan konsumsi domestik dapat memperluas defisit transaksi berjalan Indonesia, yang diperkirakan naik menjadi 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini dari 2,7 persen dari PDB pada tahun 2012, tingkat ketika pemerintah mungkin berjuang untuk membiayai,” ujar Robert.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan negara dengan perekonomian melesat atau emerging market di Asia bakal menghadapi sejumlah risiko sebagai imbas dari ketidakpastian pemulihan ekonomi global, khususnya di Eropa. Salah-salah, bisa terjebak dalam middle income trap.

Middle income trap merupakan istilah bagi negara berpendapatan menengah alias middle-income economies (MIE) yang terjebak di posisinya dan tidak bisa melakukan lompatan untuk masuk menjadi negara maju baru. Dengan kata lain, suatu negara telah mencapai suatu level pendapatan per kapita tertentu yang relatif makmur, namun tidak mampu lagi mempertahankan momentum pertumbuhan yang tinggi. Karena itu, negara itu tak kunjung naik level masuk jajaran negara maju.

“Di saat risiko eksternal dari krisis utang akut di zona euro telah berkurang, risiko secara regional justru tengah menjadi fokus utama. Risiko tersebut mencakup ketidakseimbangan finansial dan kenaikan harga aset,” demikian peringatan IMF.

Direktur IMF Asia Pasifik, Anoop Singh, mengungkapkan pihaknya terus memonitor rasio kredit dan tingkat produksi di kawasan Asia karena kondisi tersebut bisa memburuk sangat cepat. Karena itu, Singh mendesak otoritas di Asia segera merespons lebih dini guna mengatasi potensi efek ekonomi terlalu panas atau overheating.

Utang Rumah Tangga
Kondisi serupa tengah dialami Thailand. Di Negeri Gajah Putih, utang rumah tangga selama tiga tahun terakhir cukup mengkhawatirkan, naik 15–20 persen pada catatan tahunan.

“Utang konsumen Thailand sebagian besar merupakan utang hipotek (kredit kepemilikian rumah). Mereka berada pada titik kelebihan kapasitas,” kata Uwe Parpart, kepala strategi dan riset di Reorientasi.

Pasar keuangan mencatat bahwa harga realestat di negara itu telah meningkat lebih dari 30 persen sejak 2011. Suku bunga yang rendah dan arus masuk modal telah memberikan kontribusi terhadap lonjakan harga, dengan beberapa proyek mutakhir yang diluncurkan sebelumnya di Thailand.

“Sementara angka resmi tidak tersedia, kami diberi tahu bahwa beberapa bank percaya tingkat layanan utang lebih dari 40 persen dari pendapatan untuk banyak rumah tangga miskin,” kata Herald van der Linde, kepala strategi ekuitas Asia Pasifik di HSBC. “Dengan harga aset naik dan likuiditas begitu kuat, ketakutan adalah bahwa perusahaan akan terlalu ambisius. Lucunya, kontak lokal kami mengatakan bahwa bengkel mobil setempat sekarang memiliki rasio utang tiga kali lipat terhadap ekuitas, dan bahwa bank-bank mendesak bisnis untuk mengambil lebih banyak utang,” tambah dia.

 

Sumber : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/118382

 

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar anda . . . . . !!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s